Asus memperkenalkan tablet seri Transformer Book Chi

Tiga perangkat tablet seri Transformer Book Chi sekaligus diperkenalkan oleh produsen elektronik asal Taiwan Asus. Tiga tablet Transformer Book Chi tersebut ditawarkan untuk tiga segmen yang berbeda dengan baik dari segmen entry level, menengah hingga produk high end.

Tablet yang pertama adalah Transformer Book T90 Chi yang disasar untuk segmen low end. Tablet ini hadir dengan layar 8,9 inci yang mempunyai resolusi 1280 x 800 piksel. Perangkat ini mempunyai desain tipis 7,5 milimeter dan tak lupa juga dilengkapi dengan cover keyboard ala Surface milik Microsoft. Tablet ini pun ditawarkan dengan banderol murah yakni 300 USD.

Untuk segmen yang lebih tinggi, terdapat Asus Transformer Book T100 Chi. Produk ini dipatok dengan banderol sebesar 400 USD dengan layar lebih besar 10.1 inci beresolusi 1920 x 1200 piksel. Tak hanya lebih besar, tablet ini juga memiliki desian lebih tipis 7,2 milimeter.

Sementara produk yang paling powerfull dari seri Transformer Book Chi adalah T300 Chi. Tablet ini memiliki layar berukuran 12,5 inci. Pihak Asus menyediakan layar dengan opsi resolusi Full HD atau 2K HD. Mengenai harganya, T300 Chi ini ditawarkan dengan banderol sebesar 800 USD untuk yang versi 2K HD, setara dengan produk Surface Pro 3 milik Microsoft.

Lebih lanjut, T100 dan T90 mempunyai kapasitas penyimpanan berupa eMMC 32GB dan 64GB. Di dalamnya, terdapat prosesor Intel Atom Z3775 1,46GHz yang bisa ditingkatkan menjadi 2,4GHz dalam mode turbo. Sementara itu untuk T300 menawarkan opsi prosesor Intel Core M 5Y10 atau 5Y71.

Terkeren di 2015

1. Microsoft Windows 10

Tanggal 21 Januari mendatang, Microsoft akan membeberkan detail terbaru tentang Windows 10. Sistem oprasi ini diharapkan membawa perbaikan dari versi sebelumnya, Windows 8. Ketika dirilis, Windows 10 dipastikan akan banyak menyita perhatian pengguna desktop PC, notebook, dan tablet.

2. Apple Watch

Apple Watch memang lebih belakangan dirilis dibanding smartwatch berbasis Android Wear. Namun tetap saja, perangkat Apple dipastikan akan menyita banyak perhatian, baik dari sisi kelebihan maupun kekurangannya. Apple Watch kemungkinan dirilis paling cepat pertengahan 2015.

3. iPad Plus

Tidak hanya iPhone 6 yang memiliki varian Plus. iPad juga dikabarkan memiliki varian Plus atau Pro dengan dimensi lebih besar dari yang ada saat ini. Menurut kabar yang beredar, iPad Plus memiliki layar antara 12,2 hingga 12,9 inci. Sangat besar untuk ukuran sebuah tablet.

4. iPhone Terbaru

Bisa jadi iPhone 6 Mini, bisa jadi iPhone 6s, atau mungkin varian iPhone 6 lainnya. Namun yang jelas, Apple punya rutinitas merilis varian baru dalam kurun waktu enam hinnga sembilan bulan setelah merilis iPhone dan produk  tersebut seharusnya muncul di tahun ini.

5. MacBook Air 12 inci

Saat ini, MacBook Air tersedia dalam pilihan 11,6 dan 13,3 inci. Tahun ini, Apple akan merilis MacBook Air dengan dimensi 12,6 inci. MacBook Air baru ini akan menggunakan prosesor Intel Broadwell yang tidak membutuhkan kipas.

6. Steam Machine

Ingin menyaingi konsol Xbox dan PlayStation, Valve sejak dua tahun lalu sudah mendisain PC dengan bentuk kompak seperti konsol bernama Steam Machine. Valve tidak bekerja sendiri, karena mereka hanya merancang desainnya saja, sementara produknya akan diciptakan bersama oleh banyak produsen, seperti Alienware, ASUS, Gigabyte, Zotac dan lainnya.

7. Jawabone Up3

Jawabone terus berinovasi. Salah satu pencetus perangkat fitness tracker ini siap merilis Jawbone Up3 dengan penyempurnaan desain dan fitur. Versi terbaru ini juga sudah dilengkapi dengan sensor detak jantung.

8. Fitbit Charge HR

Sama seperti Jawbone Up3, Fitbit Charge HR juga merupakan versi penyempurnaan dari versi sebelumnya. Di Indonesia Fitbit belum banyak digunakan, namun sudah cukup dikenal. Fitbit Charge HR sudah mendukung sensor pengukur detak jantung.

9. Sony Project Morpheus

Sekeren namanya, Project Morpheus merupakan perangkat VR (Virtual Reality) dari Sony yang diciptakan untuk mendukung fungsi konsol besutan mereka, PlayStation. Belum diketahui kapan pastinya perangkat ini akan diluncurkan, namun diprediksi tahun ini.

10. Nitendo Bew 3DS

Hanheld terbaru dari Nitendo akan membawa peningkatan hardware dan fitur, salah satunya disertakannya dua tombol analoh yang menyerupai PlayStation Vita, Saat ini, Nitendo New 3DS sudah tersedia di jepang dan Australia, dan menyusul di negara-negara lainnya tahun ini.

Mobil Nvidia Bisa Dipanggil dari Smartphone


Dunia otomotif agaknya semakin dilirik oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Pabrikan chip Nvidia misalnya, dalam ajang CES 2015 yang berlangsung di Las Vegas, AS, minggu ini memperkenalkan platform komputer untuk mobil bernama Drive PX dan Drive CX.

Sebagaimana dikutip oleh Kompas Tekno dari Engadget, Senin (5/1/2014), Drive PX yang dimotori chip Tegra X1 terbaru merupakan sistem otomatisasi untuk kendaraan. 

Aneka kamera dan sensor yang terhubung dengan Drive PX menurut rencana akan memungkinkan mobil melakukan hal-hal seperti menyetir sendiri (auto-pilot) serta memarkir sendiri (auto-valet), tanpa intervensi manusia sama sekali. Setelah diparkir, mobil bisa dipanggil oleh pengemudi lewat smartphone.

"Kita akan melihat masa depan yang dipenuhi mobil otomatis, robot, dan drone yang bisa melihat dan belajar dengan kecerdasan yang luar biasa," kata CEO Nvidia Jen-Hsun Huang. 

Adapun Drive CX adalah sistem komputer yang mendukung aneka tampilan grafis untuk keperluan navigasi, infotainment, instrumen digital, serta monitoring pengemudi. 

Chip Tegra X1 yang tertanam di Drive PX dan CX diklaim memiliki kinerja luar biasa dengan kemampuan komputasi lebih dari 1 teraflops. Chip 64-bit dengan 256 CPU core dan pengolah grafis Maxwell ini dibekali program yang bisa mengenali aneka obyek di jalan, seperti rambu-rambu, speed camera, hingga pejalan kaki.

Meski terdengar canggih, masih belum diketahui pabrikan otomotif mana saja yang berminat memakai platform Drive PX dan CX. Belum jelas pula kapan produk mobil otomatis ala Nvidia akan memasuki pasaran.

Antivirus untuk android apakah perlu?

Setelah Kaspersky menemukan virus Android pertama tahun 2010 silam, banyak pengembang yang mulai membuat antivirus versi mobile, khususnya smartphone. Tetapi, seberapa perlukah kita memasang sebuah antivirus di gadget Android?

Salah satu pegawai Google, Chris DiBona, lewat akun Google Plus-nya menyatakan bila keberadaan virus pada smartphone Android terlalu dibesar-besarkan oleh media. Sama seperti virus smartphone Android yang pertama kali ditemukan, Trojan-SMS.AndroidOS.FakePlayer.a.

Virus berjenis Trojan yang disebar lewat SMS itu pada dasarnya tidak berbahaya sama sekali. Yang dilakukan oleh virus itu hanya membuat smartphone menginstal sebuah aplikasi media player yang berukuran 13 KB yang juga tidak akan merusak smartphone. Demikian halnya dengan sebagian besar virus smartphone.

Selain itu, Google sejatinya membantu pengguna Android untuk mengamankan smartphone mereka dari virus dengan menyaring aplikasi-aplikasi berbahaya yang ada di Google Play Store. Begitu juga dengan sistem pemasangan aplikasi pada smartphone Android yang sudah dilengkapi dengan fitur pengaman.

Misalnya, saat Anda mencoba memasang sebuah aplikasi dari pihak ketiga atau yang tidak berasal dari Google Play Store pasti smartphone akan secara otomatis memblokirnya. Cara satu-satunya untuk bisa menginstalnya adalah Anda memberikan verifikasi atau izin dari agar aplikasi itu bisa terinstal.

Oleh sebab itu, memasang sebuah antivirus pada smartphone adalah tindakan yang kurang disarankan, terutama bila Anda adalah pengguna yang tidak neko-neko. Karena aplikasi antivirus dapat meningkatkan beban kerja smartphone dan hanya akan memperlambat smartphone apabila tidak pernah digunakan.

Akan tetapi, bila Anda adalah pengguna smartphone Android yang doyan memasang aplikasi pihak ketiga yang tidak diketahui asal usulnya atau dari blackmarket, ada baiknya Anda memasang sebuah antivirus dan melakukan pemindaian virus secara berkala.

4 tanda aplikasi yang berbahaya untuk android

Berbeda dengan Windows atau iOS, Android dianggap mempunyai lebih banyak aplikasi-aplikasi berbahaya yang mengandung virus. Namun, seringkali kehadiran dari aplikasi-aplikasi ini tidak disadari oleh pengguna.

Sayangnya, Google tidak bisa secara otomatis menyetop peredaran aplikasi berbahaya via Google Play Store, seperti yang dilakukan oleh Apple di iOS App Storenya. Google hanya melakukan pemindaian terhadap adanya virus atau malware yang ada di Google Play Store. Oleh sebab itu, hingga saat ini masih banyak pengguna yang terjebak dan tidak menyadari apabila aplikasi yang diinstalnya bisa mencuri data atau bahkan merusak sistem dari gadget mereka.

Untuk mengantisipasi pemasangan aplikasi-aplikasi Android berbahaya, terdapat beberapa tanda yang memperlihatkan bila aplikasi tersebut sebaiknya tidak diinstal di gadget Android Anda.

1.Aplikasi tersebut tidak ada di Google Play
Apakah selama ini anda memasang aplikasi lewat Google Play atau lewat file APK hasil unduhan dari situs tertentu? Bila lebih sering dari file APK, Anda patut waspada.

Google memang mengizinkan pengguna untuk menginstal aplikasi tidak dari Google Play, namun pengguna harus siap menanggung resikonya. Pengguna bisa dengan mudah mendapatkan file instalasi aplikasi Android dari berbagai situs. Celakanya, banyak aplikasi yang dibuat oleh developer yang tidak jelas dan mengandung virus. Para ahli keamanan internet menyatakan mayoritas aplikasi berbahaya berasal dari luar Google Play.

2.Izin pemasangan aplikasinya tidak masuk akal
Apabila Anda memutuskan untuk menginstal sebuah aplikasi dari luar Google Play, ada sebuah tanda yang bisa menunjukan apakah aplikasi itu disusup malware atau tidak yakni dengan melihat izin pemasangannya.

Saat Anda melihat sebuah aplikasi sederhana, misalnya sebuah aplikasi senter, tetapi aplikasi tersebut meminta izin untuk membaca kontak, mengakses lokasi, atau membuat koneksi dengan internet, kemungkinan besar aplikasi itu adalah aplikasi berbahaya.

Dengan melihat lengkapnya deretan izin tersebut, aplikasi tadi nantinya bisa saja dipakai untuk mencuri daftar kontak Anda lalu mengunggahnya via internet.
Oleh sebab itu, selalu perhatikan izin pemasangan saat mencoba menginstal sebuah aplikasi.
Aplikasi yang mencoba meminta izin untuk mengirim SMS berbayar pun perlu dicurigai.

3.Jumlah instalasi, ulasan, dan reputasi mencurigakan
Jumlah instalasi juga bisa dijadikan tanda sebuah aplikasi yang berbahaya atau tidak. Jika Anda menemukan aplikasi yang sudah diinstal lebih dari satu juta orang dan mempunyai rating bintang 4 atau 5, maka aplikasi tersebut sudah tergolong aplikasi yang bisa dipercaya.

Tetapi perlu Anda waspadai, sebab ada beberapa aplikasi yang dapat menarik jutaan pengunduh yang ternyata masih membawa malware, contohnya beberapa senter yang diketahui bisa mencuri data smartphone penggunanya.

Untuk memastikan keamanannya, ANda bisa melihat ulasan lebih lanjutnya dari aplikasi tersebut.
Sebaiknya, Anda melihat lebih dari 5 ulasan untuk memastikan kualitas dari aplikasi tersebut.

Reputasi dari aplikasi pun tak kalah penting. Aplikasi buatan Google Play dianggap jauh lebih aman dari aplikasi buatan developer lain.

4.Deskripsi aplikasi tidak jelas dan sering salah penulisan
Aplikasi Android pun sama dengan aplikasi yang PC, dimana banyak developer aplikasi 'jahat' yang sebenernya tidak memahami marketing atau pemasaran produk-produknya.
Hal ini bisa dilihat dari deskripsi aplikasi yang di tampilkan di Google Play.

Banyak developer abal-abal yang menuliskan deskripsi aplikasi mereka dengan kesalahan ejaan atau asal-asalan. Kebanyakan dari kesalahan-kesalahan penulisan kata, kalimat atau tanda baca itu akan terlihat bila kita mau sejenak membacanya secara teliti.

Meskipun terkesan sepele, banyak yang mengandalkan hal ini sebagai salah satu ciri dari aplikasi yang harus dihindari. Apalagi kesalahan penulisan deskripsi juga bisa menjadi indikasi bila developer hanya ingin aplikasi berisi malware buatannya bisa tersebar dengan luas, tidak terfokus pada kalangan tertentu yang benar-benar membutuhkannya.

5 Hal yang tidak boleh dilakukan pengguna smartphone Android

Saat membeli smartphone baru, secara otomatis kita juga dituntut untuk merawatnya. Tidak sedikit pengguna yang tidak sadar bila mereka melakukan hal-hal yang membuat smartphone 'menderita.

Apabila hal-hal merugikan tetap sering dilakukan, smartphone kesayangan dijamin akan cepat rusak dan membuat data di dalamnya rawan hilang. Bahkan, pada beberapa kasus mereka secara tidak langsung mempermudah tangan-tangan jahil untuk mencuri file-file penting dari smartphone. Misalnya foto-foto selfie, dan data penting perusahaan.

Guna menghindari dampak negatif yang bisa saja muncul sewaktu-waktu, berikut adalah ulasan tentang 5 hal 'haram' untuk dilakukan oleh seorang pengguna smartphone pada gadget mereka.

1.Menyimpan semua data secara online
Menyimpan data di penyimpanan cloud alias online seperti di Google Drive, OneDrive, dan DropBox mungkin menyenangkan dan tidak membuat memori smartphone terkuras.

Namun, pengguna sebaiknya tidak melakukan hal ini. Sebab, bila suatu saat terjadi masalah pada penyedia layanan cloud 9yang semakin marak terjadi), data-data Anda di pertaruhkan dan tidak menutup kemungkinan data-data penting itu akan hilang atau dicuri.

Banyak pakar internet yang menyarankan bagi pengguna untuk menyimpan data mereka baik di smartphone dan cloud.

2.Melupakan screen-protector
Apakah Anda malas memasang screen-protector atau screen-guard pada layar hanya karena smartphone Anda memakai Gorilla Glass? Sebaiknya Anda mulai merubah pemikiran itu.

Betapapun kuatnya kaca Gorilla Glass, saat kaca tersebut mengalami benturan atau goresan berulang-ulang dari sebuah benda kasar pada akhirnya akan tergores juga. Celakanya, mengganti lapisan kaca Gorilla Glass pada smartphone pun tidak murah.

Oleh sebab itu, tidak ada ruginya Anda memasang screen-guard untuk antisipasi dan langkah perlindungan awal pada layar smartphone. Anda juga bisa memilih screen-guard jenis 'tempered-glass' yang di klaim  tahan goresan dan mampu melindungi smartphone saat jatuh dari ketinggian.

3.Menginstal aplikasi bukan dari Google Play
Di luar memang banyak aplikasi menggoda dan menarik yang bukan keluaran Google Play. Nah, tentunya ada alasan tersendiri bagi Google untuk tidak memasukan aplikasi-aplikasi tersebut pada toko aplikasi mereka.

Beragam alasan pun bisa melatarbelakanginya, misalnya aplikasi tersebut tidak sesuai standar Google atau menyimpan potensi berbahaya bagi pengguna. Oleh karena itu salah satu cara terbaik untuk membuat smartphone tetap aman dan awet adalah hanya menginstal aplikasi terpercaya dari Google Play.

4.Tidak memasang password
Semakin lama kita memakai smartphone, tentu akan semakin banyak data penting yang tersimpan di dalamnya. Nah, sebuah kesalahan besar bila Anda tidak memasang password pada kunci layar awal smartphone.

Banyak pengguna yang merasa tidak perlu memasang password hingga akhirnya terjadi sesuatu yang buruk pada smartphone, misalnya akun sosial media mereka dibajak. Jadi, sejak awal Anda sebaiknya mulai membiasakan diri untuk memasang password pada smartphone. Selain berguna untuk keamanan, hal ini juga dapat membuat Anda lebih tenang saat smartphone tiba-tiba hilang atau dicuri.

5.Menyepelekan update aplikasi dan backup data
Salah satu hal yang  sering membuat pengguna smartphone Android menyesal selama menggunakan gadget mereka adalah tidak pernah mengupdate aplikasi dan lupa membackup atau mencadangkan ulang data di dalam smartphone.

Tidak mengupdate aplikasi berarti Anda menolak perbaikan atau penambahan fitur yang ditambahkan oleh si pengembang aplikasi. Agar tidak menghabiskan kuota paket Anda, sebaiknya Anda melakukan update aplikasi saat akses WiFi tersedia.

Di sisi lain, tidak membackup data juga menigkatkan potensi Anda kehilangan data smartphone secara permanen. Tentu Anda tidak mau semua foto, file, atau data permainan di smartphone Android hilang tak berbekas saat tiba-tiba terjadi kesalahan sistem atau smartphone rusak.

5 cara mengatasi susah charger smartphone

Baik smartphone baru atau lama, seringkali pengguna mengalami keluhan yang sama, yakni smartphone tidak bisa diisi ulang dayanya alias di-charge.

Saat sebuah smartphone 'mogok' di-charge, tentunya ada banyak sekali kemungkinan masalah yang terjadi, misalnya masalah charger, software, hingga baterai. Ketika salah satu dari ketiga hal itu bermasalah, ada kemungkinan smartphone Android Anda akan menghabiskan waktu lama untuk proses 'charging' atau bahkan tidak bisa diisi ulang baterainya sama sekali.

Nah, saat masalah itu menimpa smartphone Android Anda, ada beberapa cara mudah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

1.Matikan smartphone
Cara ampuh untuk membuat smartphone Anda kembali bisa di-charge (sekaligus paling mudah) adalah mematikannya. Seringkali pengguna tidak sabar bila smartphone Androidnya terus menyala dan tidak pernah dimatikan sama sekali. Hal ini ternyata juga berpengaruh pada baterai.

Apalagi jika Anda sering melakukan Charging saat dengan menggunakan smartphone untuk kegiatan yang menguras daya seperti WiFi atau video call via Skype. Oleh sebab itu, secara berkala sebaiknya Anda mematikan smartphone agar sistem isi ulang daya kembali seperti semula.

2.Lakukan update Software
Jika mematikan smartphone tidak menyelesaikan masalah Anda, terdapat kemungkinan si smartphone membutuhkan update ke Android versi baru.

Banyak smartphone Android yang mempunyai masalah saat di-charge akan sembuh saat diupdate OS Android-nya. Misalnya, saat ini Anda memakai Android Jelly Bean, maka Anda bisa mencoba Android KitKat untuk membuatnya bisa di-charge. Apabila hal itu yang terjadi, sebaiknya Anda mengembalikan Software OS Android ke versi awal atau bawaan pabrik. Hal ini kerap disebut dengan Rollback.

3.Mengganti Baterai
Bila Anda mempunyai sebuah smartphone Android yang berumur di atas dua tahun, maka adalah hal yang wajar bila ia sudah mengalami masalah saat di-charge. Ini dikarenakan kebanyakan baterai hanya disetting untuk pengguna maksimal selama dua tahun.

Setelah baterai diganti, jangan lupa melihat konduktor smartphone Anda apakah mulai mengalami korosi atau berkarat. Jika terlihat memutih atau bahkan menghijau, sebaiknya segera bersihkan karena itu adalah tanda si konduktor tersebut terkena zat kimia  yang bocor dari baterai lama Anda.

Penggantian baterai juga berlaku bila tidak hanya saat smartphone sulit di-charge, tetapi juga bila si baterai sendiri sudah rusak secara fisik atau menggelembung.

4.Perbaiki port USB smartphone Anda
Salah satu cara paling ampuh untuk memperbaiki smartphone yang sulit atau bahkan tidak bisa di-charge adalah sedikit mereparasi port USB-nya. Namun jangan khawatir, karena Anda bisa melakukannya sendiri.

Permasalahan memang biasanya terjadi akibat kabel USB Charger tidak terpasang dengan benar di port USB smartphone. Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, terlebih dahulu matikan samrtphone dan cari alat dengan ujung pipih seperti tusuk gigi.

Dengan menggunakan tusuk gigi, coba angkat sedikit plat kecil yang ada di bagian tengah lubang USB smartphone Anda. Lakukan dengan perlahan dan sedikit demi sediit. Usahakan agar  ujungnya menjadi sejajar dan tidak bengkok.

Cara ini terbukti paling sering membuat smartphone yang tidak bisa di-charge kembali berfungsi seperti semula, tanpa perlu melakukan cara-cara di atas. Jangan lupa bersihkan lubang USB smartphone Anda setelah melakukan perbaikan 'mandiri' tersebut.

5.Ganti kabel USB charger
Saat Anda tidak menemukan ada yang salah di smartphone atau baterai, kemungkinan besar masalah terletak pada charger yang Anda gunakan. Langkah pertama yang Anda harus coba adalah mengganti kabel USB dari Charger, usahakan cari kabel charger satu merek.

Tetapi bila itu belum bisa membuat smartphone mengisi daya seperti semula, bersihkan debu dan kotoran yang menempel di port USB charge dan kabel USB-nya. Langkah ini selain ampuh untuk membuat smartphone bisa di-charge kembali juga dapat menghindarkan charge dari overheating yang dapat membuat smartphone meledak.

 
iPhone terbaru di Tahun 2015 © 2012 | Designed by LogosDatabase.com, in collaboration with Credit Card Machines, Corporate Headquarters and Motivational Quotes